berkaca-kaca. hampir menetes. rasanya sesak dan begitu menyedihkan. perasaan sedih pertama di umur 21.. :’(

mungkin umur 21 membuat saya jadi lebih sensitif (atau terlalu?). ya katakanlah memang begitu. tapi rasanya kesal, belum bisa juga merubah kekurangan yang satu itu menjadi hilang, atau setidaknya berkurang. masih sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya. masih (dan selalu) menyisakan penyesalan. penyesalan yang dalam, yang membuat saya banyak ber-andai.. :’(

kenapa jadi begitu sedih? kenapa jadi begitu menyesal? penghiburan pun tidak berguna. rasa hampa itu masih sama. kenapa harus seperti itu? sakit.. :’(

“Ketahuilah, Tania dan Dede… Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”

“Tapi kenapa Ibu tidak mengajak Dede?”

“Karena Ibu sedang menyiapkan banyak hal di sana… Seperti saat pagi-pagi Ibu menyiapkan sarapan buat Dede dan Tania… Nanti kalau sudah siap, kita juga akan pergi ke sana suatu saat… Sekarang kita hanya akan mengganggu saja. Ibu akan datang seperti saat membangunkan kalian pagi-pagi untuk bersiap berangkat sekolah… Tetapi sebelum waktunya tiba, kita harus pulang ke rumah malam ini… tidur yang nyenyak, esok pagi bangun melanjutkan kehidupan… Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dengan Ibu… Dia pasti menjemput.”

———————————————————————

“Ibu… Kami datang hari ini. Berempat. Delapan tahun Ibu sudah pergi. Dan ternyata Ibu tak sekali pun datang untuk menjenguk kami. Itu berarti ada banyak sekali yang Ibu siapkan di sana, bukan seperti menyiapkan sarapan di kala pagi. Tetapi tak peduli seberapa lama lagi Ibu akan menyiapkan banyak hal di sana, ada satu hal yang akan kami kenang selalu dari semua ini.”

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dede dulu tak mengerti apa maksudnya. Kalimat itu bahkan terdengar menyebalkan. Dede hanya berpikir Ibu pergi karena tak sayang lagi pada Dede. Dede ternyata keliru… Ibu pergi bukan karena tak sayang lagi pada Dede. Ibu pergi untuk mengajarkan sesuatu…”

“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Dan bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”

“Ibu benar… Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami… dan kami akan menerima.”

Kutipan dari “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, sebuah novel yang sangat bagus dan menginspirasi, karya Tere-Liye.

I’m the kind of girl who is quiet in large groups or around people I don’t know; you only see the real me if we’re close. I smile and laugh a lot, especially at the most inappropriate times. I’m a hopeless romantic. I trip over air, up stairs, and over people’s feet. I am the hardest person to offend, but it is all too easy to make me feel horrible. I hate telling people about my problems; they don’t need to worry about me. I’m the one who listens to other people’s problems. I believe people should not be judged before one takes the time to get to know them, yet I am guilty of doing that exact thing. I love to think rather than talk. I’m awkward, clumsy, shy, strange… but this is me. Take it or leave it.

(via inidini)